Modul 1.4.a.10
AKSI NYATA - BUDAYA POSITIF
Oleh :
Nurul Khofianah
Hidayati, S.Pd.
Calon Guru Penggerak Angkatan 4
Kabupaten Tegal
Menumbuhkan Budaya Positif untuk Mewujudkan Sekolah yang Disiplin, Berkarakter dan Berakhlakul Karimah
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu
agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai
keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Guru perlu
membangun komunitas di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar
menjadi manusia berdaya tidak hanya untuk pribadi tapi berdampak pada
masyarakat.
Pendidikan karakter di
sekolah bukan hanya mendorong murid untuk sukses secara moral maupun
akademik di lingkungan sekolah, tetapi juga untuk menumbuhkan moral yang baik
pada diri murid ketika sudah terlibat di dalam masyarakat. Pendidikan karakter
yang dapat menyiapkan murid menjadi manusia dan anggota masyarakat untuk
mencapai keselamatan dan kebahagiaan seperti tujuan pendidikan sendiri.
Untuk mengembangkan pendidikan
karakter salah satunya dikembangkan budaya positif di lingkungan sekolah.
Budaya positif yang dikembangkan di sekolah berisi kebiasaan yang
disepakati bersama untuk dijalankan dalam waktu yang lama. Jika kebiasaan
positif ini sudah membudaya, maka nilai-nilai karakter yang diharapkan akan
terbentuk pada diri murid
Budaya positif apabila dapat
berkembang dengan baik pada murid dan siswa maka akan dapat membangun hubungan
kerjasama yang baik antara murid, guru dan orang tua, menumbuhkan kesadaran
dalam melakukan hal- hal yang baik, murid terbiasa dengan pola hidup teratur,
mengembangkan kepercayaan diri dan tanggung jawab bersama, membangun
karakteristik siswa, mengembangkan kegotongroyongan dan kerjasama antara guru,
murid dan orang tua, menumbuh kembangkan motivasi instrinsik anak,
membangun hubungan sosial yang bagus antar warga sekolah, menumbuhkan rasa aman
dan nyaman, dan menumbuhkan kesadaran dari diri murid terhadap budaya positif.
Salah satu bentuk budaya positif
yang dikembangkan di sekolah adalah menerapkan Disiplin Positif. Disiplin
positif adalah disiplin tanpa ancaman atau tanpa hukuman, menerapkan displin
positif dapat meningkatkan kesadaran siswa dalam membentuk karakter positif.
Disiplin positif dapat dibuat melalui kesepakatan antara guru dan siswa, agar
siswa merasa terlibat dan bertanggungjawab dalam menjalanankan disiplin
tersebut.
Kita seringkali memandang bahwa
hukuman adalah bentuk yang sama dengan proses pen-disiplin-an dan memberikan
hukuman sebagai salah satu langkah dalam proses disiplin murid. Padahal,
disiplin dan hukuman memiliki arti yang berbeda dan memberikan efek yang sangat
berbeda dalam pembentukan diri murid. Disiplin merujuk pada praktik mengajar
atau melatih seseorang untuk mematuhi peraturan atau perilaku dalam jangka
pendek dan jangka panjang. Sementara hukuman dimaksudkan untuk mengendalikan
perilaku murid, disiplin dimaksudkan untuk mengembangkan perilaku para murid
tersebut serta mengajarkan murid tentang kontrol dan kepercayaan diri dengan berfokus
pada apa yang mampu mereka pelajari.
Salah satu langkah dalam
menerapkan budaya disiplin positif adalah dengan membentuk lingkungan kelas
yang mendukung terciptanya budaya positif, yaitu dengan menyusun kesepakatan
kelas. Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya
disiplin positif di kelas. Hal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar
yang lebih mudah dan tidak menekan
Kesepakatan kelas berisi beberapa
aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama membentuk kegiatan belajar
mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas tidak hanya berisi harapan guru
terhadap murid, tapi juga harapan murid terhadap pengajar. Kesepakatan disusun
dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan murid.
B. DESKRIPSI AKSI NYATA
Aksi nyata budaya positif yang saya terapkan di sekolah dimulai dari keteladanan guru sampai penerapan di kelas bersama siswa. Berikut
ini deskripsi aksi nyata penerapan budaya positif yang saya lakukan di kelas, diantaranya
adalah sebagai berikut :
1.
Keteladanan disiplin waktu oleh para guru.
Penerapan
disiplin positif di sekolah akan berjalan dengan lancar apabila seluruh warga
sekolah mampu menerapkan budaya disiplin secara konsisten. Bukan hanya siswa
yang dituntut untuk berperilaku disiplin, tetapi juga seluruh warga sekolah,
termasuk para guru. Dalam hal ini, kami para guru memberikan keteladanan
disiplin waktu dengan melaksanakan kegiatan piket guru untuk menyambut kedatangan
siswa di sekolah. Setiap hari guru berangkat lebih pagi dari pada siswa agar
siswa mampu meneladani sikap disiplin guru.
2. Membuat kesepakatan kelas
Kesepakatan kelas dibuat untuk menciptakan kesadaran siswa pentingnya perilaku disiplin dikelas. Kesepakatan kelas ini dibuat atas dasar kesepakatan seluruh anggota kelas. Siswa diminta untuk menuliskan berbagai macam kesepakatan yang perlu dilaksanakan selama proses pembelajaran di kelas maupun diluar jam pelajaran. Siswa menulis sendiri apa yang ingin menjadi kesepakatan di kelasnya dan menempelkan pada papan kesepakatan kelas.
3. Menerapkan budaya mengantri
Salah satu hal sederhana yang sering diabaikan oleh siswa adalah budaya mengantri. Kesediaan siswa untuk mengantri menunjukkan bahwa dalam diri siswa telah tumbuh sikap disiplin yang baik. Siswa memiliki kesadaran akan pentingnya memenuhi hak diri sendiri maupun orang lain. Dengan demikian, penerapan budaya mengantri penting untuk selalu diterpakan pada siswa-sisiwi kita. Misalnya budaya mengantri saat mencuci tangan.
4. Penanaman Pendidikan Karakter
Penerapan Pendidikan karakter sangan penting bagi siswa. Guru tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan kepada siswa, tetapi juga perlu menanamkan karakter positif yang kuat terhadap siswa. Salah satu kegiatan penanaman Pendidikan karakter yang saya terapkan di kelas adalah pembiasaan Ngaji Morning dan pembiasaan sholat dhuha
5. Pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa
Terciptanya suasana kelas yang menyenangkan memerlukan kemampuan guru dalam menciptakan inovasi pembelajaran. Salah satu penerapan pembelajaran yang menyenangkan di kelas saya lakukan dengan menerapkan model pembelajaran berbasis proyek. Siswa menyelesaikan proyek yang telah disepakati Bersama guru dengan jadwal yang telah ditentukan. Siswa secara aktif berkarya, berkolaborasi, dan berinovasi, guru hanya sebagai fasilitator.
6. Pembiasaan Literasi Sebelum Masuk Kelas
Budaya literasi perlu ditumbuhkan di hati siswa-siswi kita agar kesadaran tentang pentingnya membaca tumbuh dalam diri mereka. Salah sau budaya positif yang diterapkan di kelas adalah budaya membaca sebelum masuk kelas. Dengan membiasakan membaca, diharapkan siswa-siswi memiliki kesadaran akan pentingnya membaca dan dapat meningkatkan pengetahuan mereka.
C. HASIL AKSI NYATA
Kegiatan yang telah diterapkan memberi dampak yang positif, mampu menciptakan budaya disiplin, pembentukkan karakter, dan dapat membentuk ekosistem belajar yang aman, nyaman, interaktif dan menyenangkan walaupun hasilnya belum 100%, semua kegiatan perlu proses yang penting proses tersebut menunjukan hasil positif yang terus meningkat. Para siswa mulai tumbuh kesadaran untuk berperilaku disiplin dan berperilaku positif. Namun tetap memerlukan kegigihan guru untuk terus menanamkan budaya positif kepada siswa.
D. PEMBELAJARAN YANG DIDAPAT
Penerapan budaya positif di sekolah yang telah saya lakukan tidak langsung dapat berjalan sepenuhnya, masih ada siswa yang masih belum disiplin melaksanakan kesepakatan yang telah dibuat. Dalam hal ini guru harus terus mensosialisasikan program yang telah dibuatnya, memberikan teladan nasihat positif, serta melakukan pendekatan personal kepada para siswa. Keberhasilan penerapan budaya positif perlu ditularkan epada guru-guru lain baik di sekolah sendiri maupun di sekolah lain agar dapat diikuti dan dijadikan contoh bagi kelas maupun sekolah lain.
E. RENCANA PERBAIKAN
Penerapan budaya positif di kelas maupun disekolah perlu dilakukan refleksi secara berkala, untuk terus diperbaiki segala kekurangannya. Dalam hal ini saya berharap pelaksanaan aksi nyata ini akan terus berjalan, hal-hal yang sudah berjalan dengan baik dapat disempurnakas, hal-hal yang belum baik dapat diperbaiki, sehingga pada akhirnya tercipta sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan serta terwujud profil pelajar pancasila sesuai yang diharapkan.
E. LAMPIRAN - LAMPIRAN
Gambar 1
Kegiatan Piket Guru Menyambut Kedatangan siswa
Gambar 2 Membuat Kesepakatan Kelas
Gambar 3 Budaya Mengantri Saat Mencuci Tangan
Gambar 4 Pembiasaan Sholat Dhuha
Gambar 5 Kegiatan Pembelajaran Berbasis Proyek
Gambar 6 Pembiasaan Literasi Sebelum Masuk Kelas